Stop Diskriminasi Hijab!


 

Kita tahu Indonesia merupakan negara demokrasi dan berpenduduk muslim tersebesar di dunia. Bisa dibilang, sebagai penduduk Indonesia kita bebas dan nyaman menjalankan dan menunjukkan identitas kepercayaan kita. Hmm, tunggu dulu, bebas? Kenyataannya nggak juga!

Nggak percaya?!

Jadi, kemarin saya dapat undangan wawancara kerja untuk posisi corporate asistant di suatu perusahaan swasta. Awalnya si pewawancara sangat menerima. Begitu selesai tes bahasa Inggris, satu per satu kandidat masuk ke ruang wawancara. Kandidat sebelum saya cuma diwawancara selama kurang lebih 10 menit.

Nah, begitu giliran saya, si pewawancara keliatan bersemangat. Saya pun mulai memperkenalkan diri, kemudian dia menyelingi dengan beberapa pertanyaan. Nggak kerasa, wawancara berlangsung cukup lama. Mungkin sekitar 30 menit. Dia tertarik dengan kualifikasi saya, menurut dia saya kemungkinan besar kandidat yang tepat untuk posisi tersebut.

Wah, dalam hati udah ge-er duluan. Terus tiba-tiba dia bilang kalau posisi ini merupakan representasi perusahaan dan penampilan menarik jadi salah satu poin terpenting. Jadi, kalau saya diterima, saya harus mewakilkan citra perusahaan di hadapan publik. Dia bilang penampilan menarik dan citra perusahaan yang baik buat dia adalah bukan seseorang yang menggunakan jilbab atau hijab. Intinya, kata dia, sebagus apa pun kualifikasi saya, kalau pakai jilbab dia nggak akan hire karena nggak grooming aka keliatan cantik bagi dia.

Jleb! Langsung drop jantung pas denger. Antara shock dan nggak percaya sama yang saya dengar. Saya pun memutuskan untuk tidak melanjutkan proses rekruitmen.

Ternyata diskriminasi terhadap perempuan berhijab nggak cuma terjadi di negara barat, di Indonesia juga masih banyak kejadian. Contohnya ya untuk pekerjaan posisi front desk atau hospitality, seperti resepsionis, pramugari, restoran, hotel, dan masih banyak lainnya. Posisi tersebut merupakan orang-orang yang berinteraksi dengan publik langsung. Kalau yang berjilbab, cukup di belakang layar, begitu lah kira-kira yang saya tangkap.

Kenapa begitu?

Ya, bagi orang-orang yang pemikirannya sekuler, perempuan berjilbab nggak menunjukkan profesionalisme. Dan, bagi mereka nggak cantik/rapih.

Orang-orang berkoar tentang hak asasi manusia, berarti pakai jilbab hak asasi manusia juga dong ya? Kok, dilarang! Nggak profesional? Antara profesional dan jilbab dua hal yang berbeda. Banyak kok perempuan berjilbab yang pintarnya masyaAllah.

Pakai jilbab nggak rapih? Nggak cantik? Sekarang bukan zaman kuno, perempuan berjilbab malah keliatan rapih dan anggun. Plus, perempuan yang berhijab juga sekarang sudah high fesyen. Orang juga respect sama yang berjilbab.

Stop diskriminasi hijab di negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini. Semoga banyak orang yang terbuka pikirannya. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s