Rahasia Jack


Di daratan tinggi dekat sungai Ouse dan Foss bagian utara Yorkshire, sebuah kota bernama York berdiri di bawah langit biru yang diselimuti awan cerah. Matahari bersinar ramah. Cahayanya memantul ke menara dan gerbang berusia ratusan tahun yang mengelilingi York. Di kota kecil inilah sisa-sisa rekam jejak masa lalu terlihat jelas dibandingkan tempat lainnya di seantero Inggris.

Kereta api yang membawa Jack dan rombongan Kingsbury High School dari London baru saja tiba di York Railway Station. Perjalanan London-York cukup singkat, hanya memerlukan waktu dua jam. Namun bagi Jack terasa seperti perjalanan paling lama dalam hidupnya.

Kids, ayo berkumpul,” perintah Mrs. Lorry, guru kesenian pengkoordinator tur, begitu rombongan turun dari kereta. Dia mengabsen satu per satu keempat puluh siswa yang ikut dalam rombongan, membagikan peta York, dan selembar kertas berisi instruksi tugas laporan seni kreatif yang ada di York.

“Jack Moseley…Jack Moseley…?!” Teriak Mrs. Lorry.

“Hey Jack,” kata Kienan berbisik sambil mencubit lengan Jack. Cubitan Kienan membuyarkan pikiran Jack. “Aww, sakit….”

Sementara Kienan memberikan kode melalui lirikan matanya ke arah Mrs. Lorry. “Eh, umm…ya, saya,” ujar Jack salah tingkah. Kemudian bergegas mengambil peta York dan kertas instruksi tugas laporan dari tangan Mrs. Lorry.

Okay, kids mari kita mulai. Ikuti saya.” Mrs. Lorry menyudahi briefing singkat itu. Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Museum Railway York, yang juga berada di stasiun.

“Apa yang kau pikirkan Jack? Kau benar-benar terlihat bodoh tadi,” cetus Kienan sambil berjalan mengikuti rombongan.

“Tidak ada, aku hanya melamun,” Jack berbohong.

“Kau sebaiknya menikmati tur ini Jack. Siapa tahu kita bisa berkenalan dengan gadis cantik York,” seloroh Kienan.

You fool,” timpal Jack.

Sahabatnya itu mempunyai kepercayaan diri yang besar. Kienan Finch menyadari ketampanannya; berbadan bidang, berambut pirang, dan bermata biru. Kecerdikan dan bakat merayu semakin menambah lengkap keahliannya menaklukan para gadis remaja. Sementara Jack penuh perhitungan dan berpikiran logis. Mungkin itulah mengapa ia sedikit kaku dan kurang ekspresif. Tubuhnya kurus, berambut hitam, dan bermata cokelat.

York memiliki bentuk kota yang terkotak-kotak. Objek wisata di kota yang didirikan bangsa Romawi 71 SM ini letaknya saling berdekatan. Rombongan Kingsbury High School melanjutkan tur ke York City Walls, tembok Medieval sepanjang 3.4 kilometer yang dibangun sebagai benteng pertahanan kota oleh bangsa-bangsa yang pernah menjajahnya, seperti bangsa Romawi, Angles, Viking, sampai Norman. Maka hingga kini, York dikenal sebagai Walled City.

“Aku mencintai London, tapi York sangat cantik bukan?” ungkap seorang gadis kepada Jack. Jantungnya hampir copot saat tiba-tiba gadis dengan rambut panjang burgundy berdiri di sampingnya. Nama gadis itu Julie Curtis, tubuhnya tinggi langsing dan berparas sensual seperti Adriana Lima, model Victoria Secret asal Brazil.

“Pemandangan dari York City Wall ini memang magical, aku bisa melihat seisi York! Sangat memesona pada musim panas seperti ini, bunga-bunga daffodil, crocus, dan sakura dengan warna-warni kelopaknya merekah menghiasi York,” sambung Julie.

“Ya, stunning. Hmm, lihat itu York Minster, gereja gothik yang terkenal. Ada Constantine Statue di sana,” tunjuk Jack berusaha tetap cool meskipun ia merasa benar-benar canggung berada di dekat Julie.

“Julie…aku punya rahasia,” ucap Jack pelan.

“Semua orang punya rahasia Jack. Aku juga punya,” sahut Julie.

Jack berusaha mengumpulkan keberaniannya lagi, “Jul..ie….”

“Umm, Jack kau tahu, York terkenal sebagai kota paling seram se-Eropa. Aku benar-benar penasaran dengan atraksi Dick Turpin di York Dungeon,” ungkap Julie bersemangat.

“Hey, Jack! Julie! Ayo, kita menuju York Art Gallery,” seru Kienan. Tur dilanjutkan menggunakan York City Sightseeing Bus. Jack, Julie, dan Kienan memilih duduk di bagian atas bus yang terbuka. Jack tak dapat menahan pandangan matanya untuk terus melirik ke arah Julie. Sementara Julie dan Kienan terpaku dengan pemandangan yang ada dihadapan mereka, setiap kedipan mata seolah meneropong ke zaman Victorian. Di kanan-kiri berdiri kastil, menara, dan bangunan kuno yang masih seperti aslinya, kokoh dan elok.

Magnificent…indah,” ucap Julie.

“Ya, indah seperti kamu,” sahut Kienan. Julie mengernyitkan dahi. “Sure, gombalanmu tak mempan buatku.”

Setiba di York Art Gallery, Mrs. Lorry memberikan sedikit pengarahan. Dia menjelaskan York Art Gallery menyimpan berbagai koleksi karya seni masyarakat York, “Keindahan York dengan berbagai peninggalan bangunan dan karya seni ini memperlihatkan betapa kreatifnya masyarakat York. Mereka membuat York menjadi kota yang hebat, karena creativity is great,” terang Mrs. Lorry.

Semua siswa mengangguk setuju. Kemudian berpencar melihat koleksi di York Art Gallery. “Jack, you look bloody weird today bro,” ucap Kienan.

Well, aku mencintai Julie. Aku berniat mengatakannya hari ini tapi entahlah.”

“Kau bodoh Jack. Katakan padanya atau aku akan merebutnya darimu!” ancam Kienan.

“Aku punya ide. Ayo ikut aku!” Jack menarik Kienan. Mereka kabur dari rombongan meninggalkan gallery.

***

Julie beserta rombongan tengah asik membeli cokelat di Little Shambles. Tiba-tiba ia menerima pesan singkat dari Jack.

Julie, temui aku di Parliament Street. Jack. xxx

Julie segera meluncur ke sana. Ternyata di Parliament Street sedang berlangsung York International Festival of Faith and Culture. Ratusan orang dengan berbagai macam kostum dari penjuru dunia tengah mengadakan atraksi. Di antara kerumunan itu Julie melihat sosok Jack berjoget menggunakan kostum Dick Turpin. Sementara Kienan berkostum ala bangsa Viking, ia tengah asik menggoda seorang gadis berkostum tradisional Rusia.

Crazy boys,” ucap Julie melihat kedua pemuda itu. Jack menyadari kehadiran Julie. Dengan sigap Jack mengambil sepeda yang sudah dipersiapkannya. “Julie. Ayo, naik. Aku ingin membawamu ke suatu tempat,” ajak Jack.

“Dick Turpin naik kuda Jack, kenapa kau bawa sepeda,” canda Julie. “Tak ada kuda, sepeda pun jadi Juls.” Julie tertawa.

Jack menggenjot sepeda menuju York Wheel. Sesampainya di sana Jack mengajak Julie menaiki kicir itu. Mereka menikmati pemandangan York dengan syahdu. Hembusan angin sesekali menyapu wajah keduanya.

So, Julie. Aku membawamu ke sini karena ada sesuatu yang ingin aku ungkapkan.”

“Hmm,…apa?” Tanya Julie.

“…Aku mencintaimu Ju…lie.”

Waktu seperti berhenti. Tak ada komentar yang keluar dari mulut Julie. Dia memalingkan wajahnya jauh dari Jack. Detak jantung Jack berdegup kencang tak terkendali. Ia berusaha mengatur napasnya untuk tetap tenang.

“Julie, nevermind…aku tak memaksamu.”

“Bukan begitu Jack…aku juga mencintaimu.” Jawab Julie pelan. Jack tersenyum bahagia.

“Tapi…,” lanjut Julie. Tiba-tiba wajah Jack berubah.

“Aku seorang transjender…”

Sunyi….

Setelah itu tak ada lagi kata terucap. Sampai York Weel berputar ke akhirnya.

****

<p style=”text-align:left;”

Advertisements

4 thoughts on “Rahasia Jack

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s