Bersimpuh di RumahMu di Hari Fitri


Tiga tahun lalu…

Hari itu matahari telah tergelincir (condong) ke arah barat. Waktu solat zhuhur sudah lewat beberapa menit, kira-kira pukul 12.30 WIB. Saya tertegun begitu mendapati ruangan di lantai 2 sebuah kantor harian surat kabar–tempat saat itu saya bekerja–nyaris tak berpenghuni. Ruangan itu terdiri atas kumpulan meja kerja yang masing-masing berfasilitas komputer dan telepon. Ada sekitar lima kumpulan meja kerja berbatas sekat-sekat pemisah yang dibuat melingkar– tingginya nyaris menyamai kepala orang dewasa ketika duduk. Tiap lingkaran tersebut terdapat enam meja kerja yang di atasnya banyak dihiasi tumpukan koran, buku Islam, novel, sampai bingkai foto.

Di tengah sudut ruangan, ada sebuah televisi berlayar datar berukuran sekitar 34 inchi yang sengaja digantung di dinding. Sementara di setiap sudutnya terdapat pendingin udara, mesin fotokopi, dan printer.

Melihat pemandangan ini, saya merasa seperti melihat ruang  kantor di malam hari. Senyap. Tanpa hiruk-pikuk karyawan yang sibuk beraktivitas selayaknya mayoritas kantor di waktu siang. Hampir setengah penerangan di ruangan yang cukup luas tersebut itu pun belum juga dinyalakan. Sesekali ada office boy yang masuk ke ruangan untuk menaruh gelas berisi air putih di atas meja kerja.

Kaget, tapi saya lebih merasa seperti lega. Sebab, saya pikir saya akan kena omel dan dibilang karyawan baru pemalas karena datang siang bolong.

Pemandangan ini kontras dari malam sebelumnya. Ketika itu, sehabis meliput di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, saya dipanggil ke kantor untuk bertemu dengan seorang redaktur senior di lantai ini. Malam itu suasana di lantai dua begitu hidup dengan orang-orang yang asyik berdiskusi, ada juga yang sibuk bekerja di layar komputer, bahkan ada juga yang santai menonton televisi.

Pak Bibid, begitu redaktur senior itu biasa disapa, mengawal saya ke ruangan kerjanya. Perawakannya tinggi besar, kulitnya gelap–kalau tidak sopan dibilang hitam–raut wajahnya tegas seperti tentara, nada suaranya berat sehingga kadang membuat saya terintimidasi seperti mendengar polisi sedang mengintrogasi. Namun, penampilannya santai memakai baju kemeja berwarna biru muda garis-garis yang dimasukkkan ke celana berbahan denim.

Tanpa basa-basi, dia mengatakan bahwa saya dipindahtugaskan dari halaman harian ke mingguan di bawah koordinasinya. Deg…, sekejap perut saya mulas, otak saya kosong, dan entah apa kata-kata yang dia lontarkan, saya tidak dapat mencernanya. Yang saya paham, saya harus datang dan bekerja di kantor setiap hari, membuat artikel advetorial, dan mengelola tiga bidang halaman mingguan berbeda.

Pertama, saya kecewa. Kedua, saya tidak suka berita iklan dan mingguan. Ketiga, saya tidak suka bekerja di kantor. Keempat, teman-teman wartawan sekantor bilang jika seseorang dipindahkan ke mingguan, berarti low grade alias turun derajat, atau bisa juga dibilang kurang mumpuni. Kelima, saya mau tahu siapa redaktur pelaksana yang tega memindahkan saya ke halaman mingguan!!! (Ini beneran becanda :p). Hati saya menjerit, tapi percuma karena tak ada mendengar. Termasuk juga Pak Bibid yang duduk di hadapan saya. Mungkin, memang lebih baik Pak Bibid tak usah mendengar, karena dia membuat saya “ngeri”.

Terakhir yang diucapkan Pak Bibid, saya akan mengelola rubrik kesehatan, pendidikan, dan UMROH-HAJI. Rubrik terakhir membuat badan saya langsung lemas. Setelah pengarahan, saya lantas pulang karena harus kembali esoknya.

Maka seperti yang diharapkan Pak Bibid, saya hadir di kantor. Ketergesaan saya berbuah lega, saya tak akan kena omel siang ini, mengingat saya orang pertama yang tiba di ruang itu. Segera saya menempati meja kerja saya, melihat sususan banyak kartu nama di atasnya. Kebanyakan adalah milik dokter atau agensi umroh. Lalu menyalakan komputer, tetapi saya tidak dapat mengaksesnya karena komputer itu diberikan kata sandi.

Waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB, muncul orang satu per satu. Syukurlah saya tidak sendirian kan? Tapi memang, redaktur dan graphic designer mulai aktif bekerja sekitar pukul 15.00 atau 16.00 WIB sebab pada waktu tersebut bahan berita baru diterima dari wartawan dan dicetak pada malam hari. Pukul 16.00 WIB, Desy, teman baru saya sesama wartawan satu tim mingguan akhirnya nampak. Meja kerjanya persis di sebelah saya, tampak rapih dan nyaman.

Wajahnya sumringah begitu melihat saya. Dalam waktu semenit kita sudah seperti sahabat karib. “Gue seneng, akhirnya gue nggak pegang halaman umroh haji lagi. Sekarang lo yang pegang, kan? haha…Tenang deh, nggak stres lagi gue.”

Jleb! saya langsung merasa stres.

Desy bilang dia terkadang pusing dan stagnan karena kehabisan ide untuk mengangkat topik untuk halaman tersebut. Apalagi untuk topik agensi travel umroh haji, Desy sampai harus menelepon satu per satu agensi, menanyakan program, atau promo yang mereka tawarkan. Yang paling dia kelimpungan adalah kehabisan sumber agensi travel umroh haji. Kalau sudah begitu, dia harus menguras otak mencari topik untuk ditanyakan ke agensi travel umroh haji yang sudah seringkali menjadi narasumber.

Antara bingung dan gugup, sebab minggu ini saya harus menyelesaikan 1 halaman umroh-haji yang terdiri atas 1 artikel utama, 2 artikel sedang, dan 4 kilas artikel tentang agensi travel umroh haji. Alamak. Syukurlah, dibantu Desy, saya bisa melewati deadline pertama.

Ternyata benar saja, selama hampir 4 bulan, saya bertahan dengan halaman umroh haji ini. Setiap ada deadline, saya uring-uringan, stres, dan selalu mengeluh. Ditambah pula dengan tugas mengisi halaman advetorial, bahkan terkadang harus mengambil alih tugas Desy yang tengah hamil muda.

Saya bisa bayangkan jika di posisi Desy, hamil muda dan kondisi yang lemah, tetapi harus tetap menyelesaikan setumpuk pekerjaan. Pasti tidak mudah. Sampai akhirnya, Desy keguguran. Saya bisa merasakan sedihnya dia.

Selama Desy cuti, saya mengerjakan sebagian besar tugasnya. Saking stres, saya jerawatan parah. Setiap hari menangis, mengeluh ke teman-teman, dan pacar. Namun, saya selalu ingat perkataan Desy, “sabar dan ikhlas”. Jadi, saya bertahan meski masih tetap mengeluh dengan perkerjaan. Mencoba tetap sabar dan ikhlas.

“Gue pengen lama di sini (perusahaan ini). Soalnya gue pengen dapet haji gratis. Setiap tahun kantor kasih umroh dan haji ke karyawan. Lo juga sabar aja, siapa tahu dari halaman umroh haji lo bisa umroh gratis,” kata Desy menyemangati.

Sejak saat itu saya berusaha sangat keras untuk tetap semangat, walaupun kadang sedih melihat teman-teman lain di halaman harian dengan mudah mendapatkan berita dan produktivitasnya sangat tinggi. Artikel yang mereka tulis pun keren-keren; politik, ekonomi, olahraga, otomotif. Sementara saya, cuma menulis halaman advetorial pendidikan, kesehatan, dan umroh haji.

Kendati demikian, saya selalu berdoa, semoga suatu saat nanti Tuhan memberikan saya berkah umroh ke tanah suci. Sedari kecil, saya senang menonton siaran langsung solat tawarih di Masjidil Haram, Mekkah, Saudi Arabia yang disiarkan stasiun televisi lokal kendati itu tengah malam. Bahkan, sehabis salat Eid dan berlebaran ke tengga, wajib bagi saya untuk tidak ketinggalan menonton siaran televisi salat Eid langsung dari Masjidil Haram.

“Ya Allah, tolong berilah saya rezeki, umur, dan kemudahan untuk bisa melihat rumahMu, melihat Ka’bah dengan mata saya. Tolong panggil saya berdoa di rumahMu,” pinta saya dalam hati. Saya sadar, saya berasal dari keluarga sederhana. Orangtua saya memang sudah haji karena bantuan Allah. Namun, melihat kondisi keuangan keluarga, apalagi keuangan saya, rasanya sulit beribadah ke tanah suci.

Setelah hampir 4 bulan, akhirnya saya dipindahkan ke rubrik liputan haji, sedangkan Desy kembali ditugasi mengelola halaman umroh haji. Memang sih, saya senang karena saya akhirnya tidak stress menelepon agensi travel umroh haji. Saya bisa sedikit lega, seperti bebas, tetapi tetap tak jauh-jauh menulis dan menerima laporan untuk haji. Berbeda, Desy malah menerima tugasnya dengan senyum. Tidak apa-apa. “Mudah-mudahan berkah, ada yang ajak gue umroh,” katanya tertawa terbahak.

Sampai akhinya saya memutuskan berhenti dari pekerjaan saya di surat kabar tersebut. Seorang teman–mantan wartaman di surat kabar tempat saya bekerja. Dia juga sabahat baik Desy–menawari saya pekerjaan di majalah bulanan tentang ibu dan anak. Saya pikir, bolehlah. Pekerjaannya pasti santai dan tak jauh-jauh tentang kesehatan. Entah mengapa, saya merasa “lelah” menulis artikel umroh haji. Saya sering bertanya mengapa saya tidak mendapat halaman ekonomi seperti teman reporter yang lain. Sebenarnya saya tidak mau berhenti, saya tidak pernah berpikir akan berhenti, dan yang ada di kepala saya adalah di perusahaan inilah karir saya sampai pensiun kelak.

Namun, saya berhenti karena sesuatu yang tidak bisa saya bagi di sini. Jujur, saya sedih juga meninggalkan Desy. Dia menjadi salah satu sahabat saya yang paling baik hatinya dan tulus. Saya benar-benar sayang Desy karena Allah dan selalu berdoa untuk dia dan keluarganya.

Di Tempat Kerja Baru

Bisa dibilang, pekerjaan baru saya di majalah bulanan ini berbeda 360 derajat dari pekerjaan saya sebelumnya. Pekerjaan saya sangat santai, mungkin saya hanya menulis sekitar 15 artikel dalam satu bulan. Sisanya, leha-leha sambil browsing internet seharian. ha..ha.

Sebulan kemudian, saya mendapat telepon dari Desy. “Woi, gue dapet umroh gratis bulan depan dari travel agensi umroh,” ujarnya diujung telepon dengan bersemangat. Subhanallah. Saya merenung betapa Allah tidak menyia-nyiakan hambaNya yang bekerja dengan sabar dan ikhlas, mengantinya dengan pahala dan ikhlas, memberi keberkahan yang tak disangka-sangka.

Saya beristighfar, betapa dulu saya sering mengeluh menulis artikel umroh haji. Saya betanya, mengapa bukan saya? Saya kan mengelola halaman umroh haji lebih lama dari Desy? Apakah ini cara Allah menunjukkan kepada saya balasan sabar dan ikhlas, dan mengajarkan saya untuk mempraktekkannya? Saya rasa begitu.

Tapi, saya senang untuk Desy. Dia berhak mendapatkan berkah tersebut.

Di majalah ini, saya mendapatkan sahabat baru, bernama Rizki. Dia sebelas-dua belas dengan Desy. Tipikal sahabat yang baik hati dan tulus. Kami sama-sama karyawan baru, tetapi pengalamannya sebagai wartawan jauh di atas saya. Dia bahkan mendapat tugas meliput aktivitas presiden di Istana Negara RI. Dia sudah meliput keliling Indonesia, bahkan sampai Benua Asia, Eropa, Amerika. Di Usianya yang masih muda, Rizki juga ternyata telah melaksanakan ibadah haji.

Namun, saya baru kali ini bertemu orang yang benar-benar rendah hati. Melihat air wajahnya, kita bisa tahu kualitas hati Rizky. Ibadahnya tidak pernah telat. Begitu azan berkumandang, maka panggilan solat yang dia dahulukan. Selalu mengingatkan untuk berkerja dan beribadah yang baik. Sekali lagi, Allah mempertemukan saya dengan orang-orang salih yang baik, yang dari mereka saya belajar sabar, ikhlas, rendah hati, dan tawadhu. Saya sangat bersyukur hadirnya Desy dan Rizky sabagai sabahat saya.

Enam bulan berlalu.

Sehabis liputan produk kesehatan, saya bertandang ke rumah seorang sahabat, namanya Riani. Sahabat saya dulu di liputan pendidikan. Riani berparas cantik, stylish, easy going, smart, and she has kind heart too! Make me jealous! haha…Kami berbincang banyak hal dari soal gaya jilbab, make up, pekerjaan, bahkan masalah percintaan. Sampai akhirnya saya bilang kepada Riani bahwa saya memiliki mimpi terpendam menjadi seorang pramugari. Sedari lulus kuliah sampai kini saya masih terus melihat lowongan pekerjaan pramugari. Tapi, saya selalu mengurungkan niat saya untuk datang ke proses seleksi pramugari setiap ada panggilan. Alasannya cuma satu, saya berjilbab!

“Temen gue pake jilbab jadi pramugari…,” sahut Riani. Jedeeeeeeeeeerrrr!!! Seperti disambar geledek mendengarnya!

“Mauuuuuuuuu,,,,kasih tahu maskapai apa!!!” Saya seperti dapat pencerahan. he..he..

Malam harinya, saya mengunjungi laman maskapai penerbangan seperti yang diinformasikan Riani. Ternyata saya harus melamar melalui agensi. Kemudian saya kirim e-mail dan aplikasi lamaran pekerjaan ke agensi yang dimaksud. Ternyata gayung bersambut. Selang dua hari, saya mendapat e-mail balasan dari agensi, dan diminta mengikuti tes seleksi lusa. Untungnya, hari itu saya ada jadwal liputan sehingga saya bisa izin keluar kantor seharian. Saya pun ikut tes interview pertama. Dan…saya lolos!!! Kemudian, saya diundang untuk tes dan interview kedua dengan user. Hasilnya dihubungi melalui telepon.

Sabtu pagi, saya melihat ada missed call di telepon genggam saya dari nomor yang tak dikenal. Saya telepon balik, ternyata missed call tersebut dari agensi maskapai penerbangan! Mereka bilang, saya lolos!!!

Saya dikontrak untuk maskapai penerbangan charter untuk umroh dan haji. Saya pun harus menetap di Jeddah…Life is weird sometimes, kali ini saya akan bekerja untuk umroh dan haji (lagi)…

 

Tiga Tahun Kemudian…

Ada rasa yang membuncah di dada ketika saya melihat pemandangan yang ada di depan mata. Pemandangan yang biasa saya liat di gambar atau tonton di televisi tengah malam bertahun-tahun lalu ketika saya masih belia.

Saya tak menyangka Tuhan mengizinkan mata saya melihat sesuatu yang saya pikir “sulit” untuk saya liat. Atau, mungkin nanti ketika kelak saya sudah tua baru lah saya bisa melihat ini semua.

Saya berjalan mendekat, sampai di ujung pintu masuk, seorang pria berbadan besar yang memakai pakaian serba putih dari ujung kaki sampai kepala memanggil ke arah saya. Dia mengaduk-aduk isi tas saya sampai dia tidak menemukan apa yang dia cari.

Jantung saya mau copot ketika kaki saya melangkah masuk pintu gerbang yang sangat besar itu, sebesar pintu masuk di kastil-kastil. Saya melihat langkah kaki saya nyata menapaki lantai itu. Kemudian melihat ukiran-ukiran indah nama-nama Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Lama-kelamaan langkah saya semakin manjauhi gerbang pintu, semakin mendekat ke ujungnya semakin saya dengar kumpulan lautan manusia berputar-putar dan berkumandang…

Ya, Allah…

Labbaik…Allahumma Labbaik…Aku memenuhi panggilanMu, ya Allah aku memenuhi panggilanMu.

Labbaik. laa syariika laka labbaik innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syariika laka….Aku memenuhi panggilanMu, tiada sekutu bagiMu, aku memenuhi panggilanMu. Sungguh segala puji dan nikmat adalah milikMu, begitu juga seluruh kerajaan, tiada sekutu bagiMu.

 

Allah……!!! Maka nikmatMu manakah yang kudustakan?…begitu kedua mata ini melihat Ka’bah pertama kali, saya tidak dapat berkata-kata. Tanpa disadari wajah ini sudah sembab dan basah oleh butiran air mata yang tidak berhenti menetes. Malu, malu oleh dosa. Malu oleh kesombongan. Malu dengan kelalaian. Allah, saya mencintaiMu!!! Itu yang saya rasakan…Allah tiada nikmat sebesar apa pun selain berada di dekatMu. Saya ingin selamanya merasakan ini…

 20131017_072240

wpid-20130721_065154.jpg

 

8 Agustus 2013

 

Bersama room mate saya, Mba Rosanna, saya pergi ke Mekkah berdua.  Nekad betul memang. Dua perempuan Asia pergi dari Jeddah ke Mekkah berdua, tidak didampingi muhrim laki-laki. Pergi naik bus umum. Kami duduk di depan di samping sopir, katakan saja namanya Ahmad, pria paruh baya berbadan besar yang kemudian saya ketahui campuran Saudi-Bangladesh.

Saya dan Mba Rosana hampir saja naik bus lain yang menawarkan harga 50 SAR. Gila, harganya sangat mahal, 5 kali lipat ketimbang harga normal yang cuma 10 SAR. Kemudian, bus Ahmad yang kelihatan lumayan nyaman menghampiri kami.

“Makkah…??” katanya dari balik jendela.

Na’am..Kam haza (Ya, berapa)?” kata saya.

Khamstash (15 SAR),” teriak Ahmad. Mendengar Ahmad bilang “Khanstash“, saya tersenyum lebar kepada Mba Rosana yang tidak paham bahasa Arab. “15 SAR, Mba! Ayok!”

“Aiwaaa (oke)!” Sahut saya kepada Ahmad.

“Yalla..yalla…!!!” Teriak Ahmad lagi sambil memiringkan kepalanya tanda menyuruh kami masuk ke dalam bus.

Saya dan Mba Rosana memilih duduk di depan, di samping Ahmad, sebab saya merasa ini lebih aman untuk kami berdua. Di Saudi, sebenarnya laki-laki dan perempuan tidak boleh duduk bersebelahan. Kalau ketahuan bisa-bisa ditangkap askar (polisi Arab). Pengecualian untuk sopir, kami boleh duduk di depan asal memakai burqa (cadar).

Kami pun duduk manis di samping Ahmad sambil menunggu penumpang lain. Tiba-tiba, seorang pria yang menawari kami 50 SAR menghampiri Ahmad sambil marah-marah. Saya mengerti bahasa Arab sedikit-sedikit, tetapi kalau sudah panjang lebar, yaa wassalam…ora ngerti. ha..ha..ha.

Bagi bangsa Arab, India, Italy, dan Amerika Latin mungkin, berbicara menggebu-gebu tak lengkap jika tak disertai gerakan tangan. Melihat Ahmad dan pria itu berbicara sambil menggerakkan tangan membuat saya takjup. Mereka bergitu ekspressif. Berapi-api. Berbeda dengan orang Asia yang terkenal santun.

“Anti ma’lum english (Kamu bisa bahasa Inggris)?” tanya Ahmad kepada saya masih sambil menggerakan tangannya.

“Ma’lum,” jawab saya singkat.

Lantas Ahmad bercerita apa yang dia bicarakan dengan pria tersebut. Dia bilang pria itu marah karena memberi saya harga 15 SAR. Sebab, ini merupakan momen Idul Fitri, jadi semua harga akan naik berkali lipat dan itu berlaku di mana-mana. Ahmad membela diri, dia bilang memang benar, tapi harga 50 SAR itu berlebihan.

Baik juga nih si Ahmad, tetapi otak saya bilang jangan percaya Arab. Bukan maksud rasis lho. Memang banyak kejadian penipuan, banyak juga pedagang yang tidak jujur. Kemudian dia bilang semua orang menawarkan harga minimal 30-50 SAR, sementara dia kasih saya harga 15 SAR. Dia akan kasih harga 20 SAR ke penumpang lain, tapi dia kasih saya harga tetap 15 SAR asal saya tutup mulut. “Aiwa,” kata saya tersenyum puas.

Begitu bus penuh, Ahmad langsung tancap gas. Sepanjang jalan dia tidak berenti ngoceh kapada saya dan penumpang lain dalam bahasa Inggris. Sementara alunan Al-Quran dipasangnya melalui sebuah CD. Katanya menjadi seorang sopir itu banyak risiko, dia bisa mati kapan saja. Bukankah setiap orang bisa mati kapan saja? Cetus saya dalam hati. Dengan menyalakan lantunan ayat Al-Quran, kata Ahmad, dia akan terus mengingat Allah dan beristigfar. Jadi kalaupun dia tiba-tiba mati karena kecelakaan, semoga saja dia masuk surga.

Hanya Allah yang tahu, tapi saya iya-iya saja. Bisa saya katakan bahasa Inggrisnya bagus, jarang sekali saya bertemu dengan orang Arab–terutama sopir–bisa fasih berbahasa Inggris. Dia banyak bertanya, apakah saya punya pasport? apakah saya bekerja? apakah saya punya visa umroh?

Kenapa? karena kalau Ahmad membawa penduduk ilegal tanpa pasport, igomah (KTP), atau visa, maka dia dan saya bisa dipenjara. “Jangan khawatir, InsyaAllah kita sampai Mekkah selamat,” katanya. “Amin,” balas saya. Dia pun masih mengoceh, menasihati saya untuk berhati-hati di Saudi, jangan pernah lagi pergi berdua karena banyak penipuan dan musibah bisa saja menimpa saya. Saya bilang, tentu saja dan terima kasih.

Akhirnya sampailah kami di Mekkah, tanggal 28 Ramadhan sebelum solat maghrib. “Ahmad, syukran. God bless you!” sambil memberikan uang 40 SAR kepada Ahmad untuk ongkos saya dan Mba Rosana. Dengan kebaikannya, saya tak tega memberi 15 SAR seperti yang dia bilang. “Afwan, Annisa take care!” balasnya sambil sibuk menghitung uang.

Begitu sampai di Masjidil Haram, saya dan Mba Rosana cepat-cepat mengambil wudhu. Solat ashar dan duduk di halaman depan Masjidil Haram yang penuh lautan manusia. Tiba-tiba saja, satu per satu orang menghampir kami memberikan camilan, berisi kurma, susu, yoghurt, biskuit, roti Arab, dan macam lainnya. Subhanallah. Sementara kami tidak bisa membalas karena hanya punya air mineral dan mie goreng yang kami bawa buat makan malam. Semoga Allah yang membalas kebaikan mereka semua. Amin.

Magrib pun tiba. Solat terasa sangat khusyu. Setelah selesai kami mempunyai janji bertemu teman Mba Rosana dari Turki bernama Ayse. Umurnya 24 tahun dari kota Istanbul. Setelah berputar-putar di dekat plaza di luar Masjidil Haram, kami bertemu Ayse dekat KFC di Plaza tersebut. Subhanallah, cantiknya Ayse. Akhwat versi Eropa. Jilbabnya panjang sampai menutupi dadanya dan dibalut lagi dengan scaft warna hitam. Peluk bahagia kami seperti bertemu sahabat lama, padahal saat itu kami baru pertama kali bertemu.

 

wpid-20131017_024533.jpg

wpid-20130806_203537.jpg

 

Tak terasa berheboh ria, kumandang azan isya terdengar, kami kesulitan mencari tempat sampai harus beradu mulut dengan askar agar dibolehkan menerobos pembatas hijau untuk bisa masuk ke dalam masjid.

“Wallah (sungguh, demi Allah) !!!” Teriak saya kepada seorang askar. Akhirnya dia pun tak tega dan membiarkan kami masuk.

Akhirnya, tetap saja kami hanya bisa solat di anak tangga pintu masuk lantai dasar Masjidil Haram karena sudah penuh sesak. Sampai beberapa rakaat solat taraweh, bibir Ayse berdarah dan dia harus mengambil wudhu. Kami pun tak bertemu dengannya lagi, telepon genggamnya pun tak dapat dihubungi.

Solat Taraweh kali itu begitu spesial karena diimami oleh Imam Sudais. Dia tak berhenti menangis ketika memasuki doa kunut. Terutama ketika dia berdoa memohon ampunan dosa dari Allah SWT. Suasana pecah dengan isak tangis. Saya pun tak kuasa menahan air mata, begitu pula jamaah lainnya. Setelah selesai, aku dan Mba Rosana berpelukan. bersyukur dengan aksi nekad kita. haha…

Tak terasa perut sudah keroncongan, kami memutuskan makan di pelataran masjid. Eh, tiba-tiba para askar menyusir kami karena petugas kebersihan akan segera membersihkan lantai. Mau tak mau kami pindah ke dalam plaza, mereka tak peduli kami sedan makan. Ternyata sama saja, kami disuruh pindah lagi. Kami menepi ke pojokan, diusir askar lagi. Entah berapa kali kami diusir askar sampai makanan kami habis. hahaha…

Setelah itu wudhu dan lanjut masuk ke masjid. Tempat favorit kami di balkon lantai 2. Kami berencana tidur di sana sampai matahari bersinar. Di sana kami sempat berkenalan dengan perempuan Mesir dengan dua balitanya, Yahya (3 tahun) dan Sarah (2 tahun). Sayangnya saya lupa nama perempuan itu. Yahya merupakan anak yang sangat menggemaskan, seperti bule. Rambutnya ikal coklat dan matanya besar berwarna kebiruan. Begitu melihat telepon genggam saya, Yahya ingin bermain angry bird.

Saya biarkan Yahya dan Sarah bermain dengan telepon genggam saya. Sementara saya, Mba Rosana, dan Ummi Yahya berbincang-bincang. Dia berpesan kepada kami untuk selalu berdoa untuk umat Islam, khususnya di Mesir yang saat itu sedang ada demonstrasi besar-besaran. Sama seperti perjumpaan dengan Ayse, kami harus berpisah dengan Yahya, Sarah, dan ibunya.

Semoga kita bisa bertemu di lain waktu dengan seizin Allah.

Hari semakin malam. Entah mengapa, meski kedua mata ini terasa berat oleh kantuk, saya tak dapat tenggelam dalam tidur. Sementara Mba Rosana dapat terlelap sebentar. Berbeda dengan di Indonesia, saya tak mendengar lantunan takbir selepas solat isya. Akhirnya saya isi waktu dengan membaca Al-Quran sampai tak terasa terdengar suara lantunan takbir jelang solat subuh.

Allahuakbar…Allahuakbar…Allahuakbar…laillahailallah Allahuakbar….Allahuakbar walillahilham…

Lantunan takbir menggema di Masjidil Haram. Dari balik balkon, saya pandangi Ka’bah. Subhanallah. Saya tidak percaya saya berada di Masjidil Haram, bisa bertakbir dan solat Eid bersama muslim dari penjuru dunia. Suatu hal yang tidak pernah saya sangka benar akan terjadi dalam hidup saya. Bermimpi pun tidak, hanya angan-angan masa anak-anak.

Siapa sangka dulu saya hanya bisa menonton solat Taraweh dan Eid di Masjidil Haram melalui televisi. Berandai-andai saya bisa berada di sana. Suatu hari kelak.

Allah Maha Mendengar dan Melihat. Maka, dengan izinnya saya pun bisa merasakan pengalaman luar biasa ini, juga dengan sahabat yang sangat baik hatinya, Mba Rosana.

Sambil memandangi Ka’bah dan mendengarkan lantunan takbir, saya merenung. Dulu, saya pernah sangat kesal menulis artikel tentang umroh, haji, dan hal-hal berbau agama. Dengan caranya, Allah membawa saya bersimpuh di rumahNya Idul Fitri kali ini…Alhamdulillah.

 

But Allah is your protector, and He is the best of helpers. (Quran 3: 150).

 

 20130808_061057

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Bersimpuh di RumahMu di Hari Fitri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s