Belajar dari Banjir


Saya ingat betul kali pertama banjir besar datang melanda Jakarta, sepuluh tahun yang lalu tahun 2004. Kalau tidak salah saat itu saya kelas 3 SMA. Saya bersekolah di SMAN 29 Jakarta yang terletak di daerah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Biasanya saya lebih memilih jalan pulang lewat daerah Cipulir ketimbang Tanah Kusir menuju rumah saya di kawasan Bintaro. 

 

Image

Tahun 2004 jalan raya di Cipulir belum selebar sekarang, tak heran lokasi pusat perbelanjaan itu selalu macet lantaran angkutan kota yang selalu ngetem menunggu penumpang. Saya lupa saat itu bulan apa, tetapi yang pasti saat itu hujan sangat deras. Macet menuju arah Cipulir terjadi selama berjam-jam sehingga banyak angkutan kota yang menurunkan penumpang di tengah jalan, mereka memilih putar balik. Saya termasuk penumpang yang diturunkan oleh supir angkutan kota 05 jurusan Kebayoran Lama-Pondok Aren.

Saya pun turun dan berjalan kaki di tengah hujan yang lebat. Orang-orang berhamburan, berusaha menepi, sementara sebagian yang lain malah lari dari arah Cipulir sambil berteriak “Banjir..banjir,” 

Bukannya ikut berbalik arah, saya malah mempercepat jalan ingin melihat banjir, penasaran. Tiba-tiba saja ada seorang bapak menghampiri saya, dia bilang, “Allah marah, banjir ini murka dari Allah,” katanya. Kemudian dia pergi begitu saja. Perkataannya membuat saya melongo, bahkan tidak terpikirkan oleh saya banjir ini karena Tuhan murka. 

Sejak saat itu lah, saya lihat banjir menghiasi pemberitaan di TV. Orang-orang mulai meributkan banjir ini salah pemerintah kota, salah sampah, salah bangunan yang bertambah banyak. Intinya semua ini salah manusia, salah kita semua yang tinggal di Jakarta yang tidak merawat kota dan membangung kota semau kita. 

Kalau kita lihat tata kota Jakarta sekarang sudah semakin tak beraturan, padat, dan kotor. Pabrik tidak mengelola limbah industrinya dengan baik dan bijaksana. Malah membuang limbah ke sungai atau kali. Menurut saya, kesadaran kebersihan, perbaikan sarana, dan perubahan tata kota yang teratur perlu dilakukan. Ini memang tidak mudah, apalagi menyoal perbaikan tata kota. Pasti banyak pro dan kontra. 

Jika memang kita belum bisa ikut andil yang besar untuk mengatasi banjir, paling tidak kita bisa belajar untuk sayang lingkungan dan belajar tidak membuang sampah sembarangan. Apalagi buang sampah di kali atau sungai. Semoga saja, 10 atau 20 tahun mendatang kita bisa merasakan Jakarta yang bebas banjir!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s