Anies: Guru menginspirasi dan mengubah hidup seseorang

Guru merupakan pemberi inspirasi, membuka jendela kemajuan, dan mengubah hidup seseorang kea rah yang lebih baik. Guru sejatinya mengajar dengan kepercayaan dan niat baik, karena Indonesia masih mempunyai masa depan yang cemerlang.

Demikian diungkapkan Inisiator sekaligus Ketua Yayasan Indonesia Mengajar Anies Baswedan. Sayangnya, di tempat-tempat terpencil dan terluar Indonesia, anak-anak yang tidak merasakan pendidikan berkualitas. Alasannya klasik, kurang guru berkualitas.

Padahal, menurutnya Anies, masih banyak anak muda Indonesia yang mau mengajar di daerah-daerah pelosok. Itu dibuktikan, sejak dimulainya Indonesia Mengajar, ada lebih dari 11 ribu anak muda yang mendaftar untuk menjadi guru. Padahal, yang diterima per-angkatan tidak lebih dari 50 orang.

Selama ini, sambung Anies, permasalahan guru di Indonesia ada dua, distribusi guru yang tidak merata, bukan kekurangan guru dan kualitas yang masih rendah.

“Pendidikan itu gagasannya sederhana, guru yang berkualitas. Meskipun fasilitas bagus, tapi kalau guru tidak berkualitas, maka pendidikan tidak akan maju,” katanya di Kantor Pusat Indonesia Mengajar, Jakarta.

Sebab, guru itu tugasnya selain mendidik, juga menginspirasi anak didiknya. Guru adalah jendela kemajuan yang dapat mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik.

Anies menjelaskan Indonesia Mengajar diawali dari sebuah keyakinan bahwa banyak anak muda yang mau masuk ke pelosok pedalaman untuk mengabdi dan mengajar di sekolah dasar yang kekurangan guru. “Tetapi tidak mau menjadikan guru sebagai profesi seumur hidup, dan memang tidak perlu. Yang terpenting apa yang diberikan selama menjadi guru membekas dan menginspirasi murid dan lingkungan sekiar,” tegas dia.

Menurut Anies di desa-desa pelosok Indonesia itu menyimpan banyak kisah inspirasi. Banyak anak yang harus rela berjalan kaki melewati bukit untuk sampai ke sekolah. Mereka bahkan kekurangan fasilitas belajar, tetapi tetap semangat menimba ilmu.

“Program Indonesia Mengajar ini dua arah, pengajar muda menginspirasi murid, dan murid menginspirasi para pengajar muda untuk menyampaikan kepada dunia, khususnya masyarakat Indonesia tentang kondisi pendidikan di pedalaman, agar akan lebih banyak lagi orang yang peduli,” tutur Anies.
Menyikapi soal pendidikan diwilayah perbatasan ia mengatakan yang harus dibangun adalah kesadaran dan investasi sumber daya manusia. Karena itu, lanjutnya, melalui program Indonesia Mengajar telah ditempatkan para pengajar  di wilayah perbatasan seperti Pulau Rote, Sangihe.

“Indonesia Mengajar ini independen, tidak meminta bantuan kepada pemerintah. Kita harus lihat permasalahan dan coba selesaikan sendiri semampu kita,” tegas Anies.

Anies menilai kemajuan pendidian Indonesia tidak sebatas dibangun melalui beasiswa, tetapi bagamana menyadarkan anak-anak dipedalaman akan pentingnya pendidian mengubah hidup dan dunia. Pasalnya, ada saja daerah yang lingkungannya menolak pendidikan.

“Kita mau anak-anak mempunyai mimpi dan harapan,” ucap Anies.

Sejak tahun 2010, Indonesia Mengajar sudah mengirimkan 123 pengajar muda yang tersebar dari wilayah Aceh utara sampai ke Fak-Fak. dan pada tanggal 3 November 2011 akan kembali memberangkatkan 47 pengajar yang akan mengabdi di SD di seluruh pelosok Indonesia.

Mereka para pengajar merupakan para sarjana berusia muda yang berasal dari berbagai latar belakang disiplin ilmu dan dipilih melalui proses seleksi dan sebelum mengajar diberikan bekal training mengajar selama tujuh minggu melalui Yayasan Indonesia Mengajar.

Advertisements

Anies Baswedan: Guru Jendela Kemajuan Pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s