Ketika Mahasiswa Bule Tinggal di Kampung


Tidak pernah terbayangkan bagi Dawson Metcalf (22 tahun), mahasiswa Oklahoma State University, Amerika Serikat, bahwa suatu saat dirinya akan melintasi samudra, pergi jauh mengunjungi sudut-sudut perkampungan terpencil di negara berkembang, melihat budaya dan dunia yang sering kali membuatnya mengernyitkan dahi, terkejut, jauh dari hal-hal yang pernah ia bayangkan.

Kendala bahasa yang menyulitkan pun tanpa disadari membuahkan momen-momen canggung. Tak pelak, hal itu menjadi kelucuan-kelucuan yang membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Hal lain yang juga tidak dapat dilupakannya adalah tatapan warga lokal yang terpaku pada wajah bulenya, Dawson pun hanya mampu membalas dengan senyuman ramah meskipun sebenarnya dia dihinggapi rasa culture shock.

Namun, hal itu justru disyukuri Dawson. Baginya, mengunjungi Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, membuatnya lebih membuka pikiran, lebih menghargai perbedaan, budaya, dan tidak berpendapat separuh-separuh tentang negara berkembang yang berbalut ajaran Islam. “Pengalaman ini membuat saya lebih bersemangat untuk mempelajari budaya negara lain, memahami perbedaan dengan lebih membuka pikiran saya, dan lebih humble,”  saat dijumpai di Four Season Hotel, Jakarta (13/8).

Dua bulan lalu, tepatnya sekitar akhir Juni sampai pertengahan Agustus, Dawson bergabung dengan program magang FINIP (Freeman Indonesia Nonprofit Internship Program) yang diselenggarakan oleh IIEF (The Indonesian International Education Foundation). Dawson bersama 20 mahasiswa Amerika dan Indonesia yang kuliah di Amerika bekerja bersama LSM di Indonesia untuk membantu  menyelesaikan beragam permasalahan seputar pendidikan, AIDS, dan kesehatan.

“Kami di sebar ke berbagai kota di Indonesia, seperti Bandung, Jogjakarta, dan Malang,” ungkap Dawson.

Dalam program FINIP ini, Dawson menjalani magang di LSM Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) di Bandung, di mana ia terlibat juga dalam kampanye kesadaran HIV.

Awal keikutsertaan Dawson dimulai ketika dia melihat pengumuman magang internasional ke Indonesia. Berbekal rasa penasaran dan haus akan pengalaman internasional, kesempatan magang itu pun tidak disia-siakannya. Dia ingi

n membuktikan persepsi stereotipe di kalangan Amerika konvensional mengenai negara dan masyarakat muslim.

“Perbedaan budaya yang saya alami antara Indonesia dan Amerika memang sangat besar. Namun, saya memang ingin sekali bergabung dengan lembaga non profit seperti NGO untuk melakukan sesuatu bagi orang lain, terutama di bidang pendidikan,” jelas Dawson.

Latar belakang pendidikannya, political science, mungkin tidak berkorelasi dengan apa yang dia kerjakan dalam program magang, tetapi hal itu tidak menjadi masalah. Itu justru menambah cakrawala ilmunya.

Selama dua bulan dia bekerja memberikan pemahaman dan kesadaran akan bahaya AIDS, sehingga dia harus masuk ke kalangan prostitusi. Dawson menyadari bahwa tidak sedikit dia antara pekerja tersebut yang berpengetahuan luas. Hanya saja, kendala ekonomi mengakibatkan mereka tidak dapat mengakses pendidikan sehingga banyak yang rela menjadi pekerja sex dengan bayaran murah dan tanpa pengaman.

“Saya puas dengan apa yang telah saya lakukan di lingkungan prostitusi di Bandung, memberikan pemahaman bahaya AIDS ke banyak orang. Dari situ kita dapat mengetahui dan mencatat masalah apa saja yang ada di lingkungan itu. Mungkin apa yang saya lakukan belum dapat memberikan perubahan yang besar, tapi setidaknya itu dapat dijadikan bahan penelitian untuk dicarikan solusinya kelak,” tutur pemuda berambut kecoklatan itu.

Menurut Dawson isu terpenting yang dihadapi penduduk Indonesia adalah masih minimnya akses masyarakat terhadap pendidikan, sehingga itu juga berdampak pada kualitas hidup dan kesehatan.  Dia mengatakan, sekembalinya ke Amerika, Dawson ingin memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat Amerika konvensional tentang negara berkembang, Indonesia khususnya, dan negera muslim bahwa banyak hal yang mereka dengar selama ini tidak benar dan salah persepsi

“Saya merasa program ini memberikan banyak insight menarik bagi saya bukan hanya tentang program di tempat saya magang, namun juga tentang pengalaman bersosialisasi dengan masyarakat setempat yang kebanyakan muslim,” papar penyuka martabat telor itu.

Ternyata, sambung Dawson, apa yang menjadi anggapan warga Amerika konvensional terhadap orang muslim di Indonesia tidak benar, karena Dia menemukan tingkat toleransi yang tinggi antar umat beragama di sini. “Nanti di Amerika, saya akan melanjutkan penelitian tentang pemahaman Islam dan Kristen,” jelasnya.

Berbeda, keikutsertaan Tess Merrimen, mahasiswa University of Montana dalam program FINIP berawal dari ajakan seorang teman di kampusnya. Saat itu, pengetahuan Tess tentang negara berkembang masih sangat minim, sehingga ia merasa tertarik untuk mengenal dan memahami lebih jauh negara dan terutama budaya di negara berkembang.

“Saat itu saya pikir ikut program magang di Indonesia keren, ini akan menjadi pengalaman magang internasional pertama saya,” ungkap Tess.

Tess kemudian magang di LSM bernama Kampung Halaman yang berada di Jogjakarta. Di sana dia lebih banyak memberikan kampanye kesadaran kesehatan. Tentu, sama seperti Dawson, selama program magang, Tess menemui berbagai perbedaan budaya.

“Kendala sewaktu di Indonesia adalah budaya tepat waktu, di Amerika kami terbiasa tepat waktu, tetapi saat di Indonesia sering sekali tidak tepat waktu,” kata Tess.

Selain kendala budaya, kendala bahasa juga sering dialami gadis berusia 18 tahun itu. Menurutnya hal itu justru menimbulkan hal-hal lucu dan memalukan. “Kemarin saya mau pergi ke suatu tempat naik taksi, begitu masuk ke taksi saya menyapa supir “Selamat Malam”, padahal saat itu masih pagi, supir itu pun tertawa, benar-benar memalukan,” kata gadis bertubuh jangkung itu tertawa geli.

Kendati demikian, Tess menikmati kehidupan di Indonesia. Terlebih lagi dia adalah seorang mualaf dan memakai jilbab, Tess senang karena dia dapat melewati Ramadhan di Indonesia, terlebih karena waktu puasa lebih singkat.

“Di Indonesia saya merasa nyaman dengan lingkungan muslim, karena saya seorang muslim dan memakai jilbab sehingga saya merasa di terima di sini, Menjadi remaja muslim di Amerika itu lebih sulit, tapi saya bahagia dengan pilihan saya, menjadi muslim. Suatu saat saya ingin kembali ke Indonesia,” jelas mahasiswa Antropolo

gi yang menjadi muslim sejak usia 17 tahun ini.

Pengalaman magang FINIP juga dialami  Stephanie Senna (21 tahun), mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Senna  yang merupakan anak Indonesia pertama peraih medali emas di Olimpiade Biologi Internasional di Argentina tahun 2007 ini menjalani magang di Yayasan Paramitra, Malang.

 

Pengalaman program magang tersebut, ucap Senna, benar-benar membuka matanya tentang kehidupan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. “Saya ikut serta dalam penyuluhan kesehatan bagi para wanita pekerja seks komersial di kabupaten Malang. Saat melakukan penyuluhan, saya berinteraksi langsung dengan mereka dan memahami tentang kehidupan mereka sehari-hari,” jelas Senna.

Diana Kartika Jahja, Direktur IIEF mengatakan bahwa program pertukaran pelajar lintas negara, baik melalui beasiswa, pelatihan, maupun magang semakin berkembang sejalan dengan era globalisasi saat ini. Di Amerika Serikat, jumlah mahasiswa asing yang belajar di negara itu mencapai 690.923 orang.

Di tahun 2009-2010, meningkat 19.307 orang dibandingkan periode sebelumnya. Sedangkan jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar ke Amerika Serikat sendiri masih hanya sekitar 1% dari total mahasiswa asing yang belajar di negara itu, yaitu 6.943 orang untuk tahun 2009-2010.

Tujuan penyelenggaraan program-program tersebut antara lain untuk memberikan pemahaman mengenai budaya lain dan meningkatkan kecakapan mereka dalam beradaptasi dan berkomunikasi antar budaya,” jelas Diana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s