Pendidikan Anak Pinggiran Ala Kadarnya


Layanan pendidikan di daerah tertinggal, terpencil, daerah konflik, dan wilayah perbatasan seadanya, jauh dari berkualitas, kerap terlupakan.

Banyak anak Indonesia yang kurang mengenal sejarah dan budaya negeranya, bahkan ada yang tidak dapat berbahasa Indonesia. Tidak sedikit pula dari mereka yang lebih ‘akrab’ dengan budaya negera tetangga.

Nasib anak-anak di daerah pascakonflik tidak kalah mirisnya. Angka anak yang belum terjamah hak layanan pendidikan pun tidak sedikit. Menyikapi hal ini, pemerintah harus segera mengambil langkah konkret dalam memperluas akses layanan pendidikan ke seluruh pelosok tanah air. Jika tidak, maka makin banyak saja anak-anak usia sekolah yang terpaksa putus sekolah, lagi-lagi karena alasan ekonomi.

Melihat sulitnya penanganan masalah tersebut, Kementerian Pendidikan menggandeng Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk mau bekerja sama memperluas layanan pendidikan anak usia dini, pendidikan nonformal, pembinaan pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, pendidikan layanan khusus, kebahasaan, penelitian dan pengembangan, serta  pengembangan sumber daya manusia pendidikan.

Nota kesepakatan kerja sama ditandatangani antara Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh dengan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono pada Rabu (7/09) di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.

“Kita bersepakat untuk memadukan dan mengoptimalkan mulai perluasan akses pendidikan anak usia dini sampai dengan kebahasaan,” katanya.

Mendiknas menilai, bahasa sangat penting diajarkan di daerah perbatasan. TNI, kata Mendiknas, berperan mengajarkan bahasa Indonesia terutama di daerah perbatasan. Sebelum berangkat ke daerah perbatasan, pihak Kemdiknas akan membekali anggota TNI dengan metodologi belajar mengajar dan mengenal psikologi pendidikan.

“Kita tidak ingin di daerah perbatasan bahasanya konversi,” tegas Mendiknas.Agus menambahkan keberadaan pasukan TNI di daerah-daerah khususnya di perbatasan dapat dioptimalkan untuk mendukung pendidikan nasional. “Dalam waktu dekat ada beberapa kegiatan yang dilakukan khususnya sarana prasarana. Kita akan mencoba berkoordinasi untuk membantu membangun kembali atau merenovasi sekolah-seko
lah yang rusak,” jelas dia.

Kerja sama kedua belah pihak ditandai dengan penandatangaani nota kesepakatan masing-masing antara Plt Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Fasli Jalal, Plt Dirjen Pendidikan Dasar Suyanto, Dirjen Pendidikan Tinggi Djoko Santoso,  Dirjen Pendidikan Menengah Hamid Muhammad, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Khairil Anwar Notodiputro, Kepala Badan Pengembangan dan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Syawal Gultom, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dengan Asisten Teritorial Panglima TNI Mayjen TNI Langgeng Sulistiy

ono.

Ruang lingkup kerja sama untuk Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (Ditjen PAUDNI) adalah bertanggungjawab melakukan sosialisasi dan koordinasi kepada dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota, menetapkan kebijakan terkait dengan penyiapan pendidik, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, serta penyelenggaraan program PAUD dan pendidikan nonformal. Selain itu, melakukan pemantauan dan evaluasi bersama, serta pelaporan pelaksanaan program.

Sementara ruang lingkup Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar (Ditjen Dikdas) adalah meningkatkan akses pendidikan dasar, meningkatkan mutu sarana dan prasarana, dan mengembangkan kapasitas sekolah-sekolah binaan TNI. Sasaran tugas dan tanggung jawab Ditjen Dikdas adalah meningkatkan akses pendidikan dasar, meningkatkan mutu sarana dan prasarana, dan memberikan petunjuk teknis pelaksanaan ke

giatan.

Direktorat Pendidikan Menengah akan bertugas dan tanggung jawab untuk melakukan sosialisasi dan koordinas kepada dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota, menetapkan kebijakan terkait dengan penyiapan pendidik, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, tata kelola, serta penyelenggaraan program pendidikan menengah, melakukan pemantauan dan evaluasi bersama, serta melaporkan pelaksanaan program pendidikan menengah.

Ruang lingkup kesepakatan kerja sama Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) adalah di bilang penelitian sains dan teknologi pertahanan, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan kapasitas, dan berbagi sumber daya manusia. Tugas dan tanggung jawab  Ditjen Dikti adalah merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan teknologi pertahanan. Tugas berikutnya adalah merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Semoga saja, pendidikan, bagi mereka anak-anak pinggiran, terpencil, terdepan, daerah perbatasa, daerah konlik tidak lagi ala kadarnya.

Advertisements

One thought on “Pendidikan Anak Pinggiran Ala Kadarnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s