A Woman Named Diana


Minggu siang, cuaca sangat panas, aku melangkahkan kaki dengan segan ke sebuah sekolah Islam. Wajahku cemberut. Kalau bukan karena ibuku yang galak, aku pasti tidak mau pergi ke sekolah itu.

Saat itu usiaku 11 tahun. Aku baru saja masuk sekolah menengah pemerintah, di sana anak perempuan tidak diwajibkan memakai kerudung. Itulah tujuanku, aku mau pergi ke sekolah pemerintah karena tidak mau memakai kerudung. 😀

Namun, orangtuaku adalah muslim yang taat, mereka sangat ketat dengan pendidikan Islam. Jadi, mereka membawaku ke sebuah sekolah Islam pada hari itu. Aku sangat malas dan kesal, dalam pikiranku cuma satu, guru itu nanti pasti akan mengajarkan membaca Al-Quran seperti guru-guru yang lain. Hanya membaca Al-Quran!

Aku bilang kepada ibu, “Ibu aku sudah bisa membaca Al-Quran, kita tidak usah pergi!” Ibuku tidak bergeming, dia tetap membawaku ke sekolah itu. Aku pun tidak punya pilihan lain.

Sesampainya di sekolah, aku dan ibu mendatangi seorang wanita pemilik sekolah Islam itu, aku lupa namanya. Kemudian, kami dibawa ke sebuah ruangan kelas di lantai dua gedung sekolah.

Dari luar pintu, aku melihat sekelompok perempuan berkerudung panjang sedang duduk dilantai yang beralaskan tikar. Salah seorang perempuan berkerudung warca cokelat tersenyum ke arahku dan Ibu.

Dia menghampiri kami, masih dengan senyuman yang mengembang, dia mengucapkan Assalamu’alaikum, lalu memeluk aku dan ibu. “Saya Diana, murabbi di sini,” kata perempuan itu memperkenalkan diri.

Ibuku membalas senyuman kepada Diana, memperkenalkan aku kepadanya. “Ini, Nadia, putri saya. Tolong bantu putri saya belajar agama Islam,” kata Ibu.

Aku biasa saja, aku tetap tidak tertarik. Ibuku lalu pergi, meninggalkan aku bersam Diana dan sekelompok perempuan berkerudung panjang. Aku duduk paling pojok karena merasa sangat asing dan canggung. Mereka menyapaku satu per satu dan memperkenalkan nama.

Jujur saja, Aku tidak mengingat nama mereka. Dalam otaku cuma satu, mereka jauh lebih tua dariku. Aku pun lalu hanya mengatakan, “Halo, aku Nadia,”

Diana kemudian menjelaskan kepadaku bahwa mereka sedang membahas tentang Tuhan dalam Islam, Allah. Aku mengernyitkan dahi, dan berkata dalam hati, tentu saja aku tahu siapa Allah, aku ini muslim sejak lahir!

Pelan-pelan, Diana menjelaskan siapa Allah, rasul, dan manusia sebagai umatnya. Aku tercengang, semua penjelasan Diana tentang Ketuhanan membukakan mata dan menyadarkan diriku. Aku baru saja tahu tentang Tuhan!

Wanita itu, Diana, membuatku terkesan. Setiap tutur katanya sangat pintar dan jelas. Dia membuka mata hatiku tentang Allah dan Islam. Saat itu aku merasa seperti pohon kering yang disiram air. Segar dan jernih.

Aku berpikir, sekolah ini berbeda, wanita ini guru yang luar biasa. Dia membiusku dengan ilmu. Tanpa kusadari, aku jelas-jelas menyukai sekolah Islam ini. Aku memutuskan akan kembali lagi minggu depan.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s